Jl. Pariwisata No. 9, Meninting, Batu Layar, Lombok Barat+62 819-3313-1246[email protected]

Panduan Properti Senggigi: Di Sini Villa Jadi di Lombok Berkumpul

Ira — Agen Properti Berlisensi (802406) · 1 Oktober 2026

Hampir semua tulisan properti Lombok bercerita soal tanah. Beli kavling, bangun villa, tunggu delapan belas bulan. Senggigi pengecualiannya, dan itu alasan kawasan ini perlu dibahas sendiri: di pesisir inilah Anda bisa membeli barang yang sudah berdiri.

Di buku kami sekarang ada 38 listing villa di kawasan Senggigi, berbanding 13 di Kuta Mandalika. Median harga penawarannya 2,7 miliar. Sebagian villa itu minggu ini ada tamunya.

Kenapa barang jadi menumpuk di sini, hampir tak di tempat lain

Senggigi jalur resor pertama di Lombok. Hotel berdiri sejak akhir 1980-an sampai 1990-an, waktu kawasan ini masih jadi satu-satunya nama di pulau ini dan Gili masih kampung nelayan dengan beberapa bungalow. Lalu Gili mengambil backpacker dan pengantin baru. Lalu Kuta dan kawasan Mandalika mengambil peselancar dan investor. Lalu rangkaian gempa Juli dan Agustus 2018 merusak banyak bangunan di Lombok Barat dan Utara, dan beberapa hotel Senggigi tidak pernah buka lagi. Lalu pandemi.

Jadi Senggigi punya yang tidak dipunyai Kuta: tiga puluh tahun bangunan, dan pemilik yang sudah lewat dua guncangan besar dan siap melepas. Dari situ barangnya datang. Ini bukan rahasia dan bukan tragedi. Ini pasar yang sudah punya sejarah, dan masuk ke pasar seperti itu lain urusannya dengan masuk ke kawasan yang baru dibuka.

Riwayat gempanya penting secara teknis, bukan emosional. Lombok duduk di sistem sesar aktif dan BMKG menerbitkan catatannya. Kalau yang Anda beli bangunan dan bukan tanah kosong, kondisi struktur jadi pertanyaan pertama, bukan kelima.

Villa-villanya seperti apa

Tiga puluh delapan listing, 36 punya harga terbuka. Penawaran bergerak dari 400 juta sampai 30 miliar. Mediannya 2,7 miliar. Median luas tanah di bawah villa 695 m².

Dua lubang yang jujur saya akui di berkas kami sendiri. Luas bangunan tercatat cuma di 10 dari 38 listing, dan jumlah kamar di 22 dari 38 dengan median 3 kamar. Kami isi terus seiring pemilik menyerahkan dokumen, dan Anda sebaiknya menganggap villa tanpa luas bangunan tercatat wajib diukur di lokasi.

Harga per are, cara standar orang membicarakan tanah Lombok, langsung rusak di sini. Lihat apa yang terjadi pada villa di dalam jalur:

  • Kavling 120 m² di Senggigi dengan rumah 100 m², ditawar 1,3 miliar. Itu 1.083 juta per are.
  • Kavling 200 m², tiga kamar, ditawar 3 miliar. Itu 1.500 juta per are.
  • Di tanjung Batu Layar, 3.500 m² ditawar 6,125 miliar. Itu 175 juta per are.

Dibanding villa 200 m² itu, kavling tanjungnya tampak hampir sembilan kali lebih murah per are, padahal harganya dua kali lebih mahal. Karena yang dibeli bukan tanah, tapi bangunan dan pemandangan, dan hitungan per are tidak bisa melihat keduanya. Jebakan yang sama kami bongkar di panduan zona Kuta Mandalika, hanya arahnya terbalik.

Kantong-kantongnya, dan satu hal yang bikin pembeli kaget

Median dari listing kami. Total dalam rupiah, angka per are dalam juta.

  • Senggigi inti — 17 villa, median total 1,7 miliar. Ada juga 17 kavling tanah dengan median 200 per are, dua rumah, satu ruko.
  • Batu Layar — 12 villa, median total 4 miliar. Lima kavling tanah, median 100 per are.
  • Montong — 4 villa, median total 4,85 miliar. Tanah 152.
  • Kerandangan — 6 kavling tanah dengan median 92 per are, satu villa. Lembah sepi di belakang jalur utama.
  • Malimbu — 3 kavling tanah, median 60 per are, dan semuanya luas. Tikungan pemandangan yang semua orang foto saat jalan ke utara.

Kagetnya di sini: villa termurah justru di dalam jalur, yang termahal di tanjung. Pembeli datang dengan anggapan sebaliknya, bahwa tengah berarti premium. Di Senggigi, tengah berarti lebih tua, lebih kecil, dan terjepit di 120 sampai 200 m² di belakang jalan raya. Uangnya ada di atas, di Batu Layar dan Montong, di lahan 600 sampai 3.500 m², menghadap barat ke matahari terbenam.

Mau yang mana tergantung buat apa propertinya. Villa kecil di jalur yang bisa dicapai jalan kaki itu barang sewa; rumah di tanjung itu tempat tinggal.

Berkas tanah di sini paling bersih dari semua kawasan yang kami tangani

Dari 34 listing tanah di kawasan Senggigi, 28 bersertifikat SHM. Itu rasio terbaik di antara semua kawasan di buku kami, dan itu mencerminkan pesisir yang sudah puluhan tahun dikembangkan dan diukur resmi, bukan diwariskan secara kekeluargaan.

Villa justru sebaliknya. Cuma 11 dari 38 yang jenis sertifikatnya tercatat di berkas kami. Bukan karena alasnya bermasalah, tapi karena properti terbangun berpindah tangan lewat notaris dengan dokumennya di lemari pemilik, dan agen baru melihatnya belakangan. Siap-siap menanyakan, dan siap menunggu beberapa hari.

Apa pun bentuknya, pemeriksaannya tidak berubah: tarik sertifikatnya, cocokkan dengan batas fisik, pastikan kewenangan penjual. Urutannya ada di panduan cek sertifikat, dan untuk bangunan tambah dua pertanyaan lagi. Pernah berizin atau tidak, dan apakah izinnya cocok dengan rencana pemakaian Anda. Status sertifikat bisa disilangkan lewat Kementerian ATR/BPN.

Soal okupansi, dengan angka yang sebenarnya

Kalau Anda beli untuk disewakan, akan ada yang menyebut angka okupansi. Ini yang dikatakan statistik resmi untuk seluruh provinsi, dari rilis pariwisata bulanan BPS NTB.

Agustus 2025, puncak musim: Tingkat Penghunian Kamar hotel bintang di Nusa Tenggara Barat 48,80 persen. Januari 2026: 35,01 persen, turun dari 41,98 persen di Desember 2025. Kunjungan wisatawan mancanegara lewat Bandara Internasional Lombok pada Januari 2026 tercatat 6.305 orang sebulan, dan 69,74 persen tamu hotel bintang bulan itu orang Indonesia.

Baca ketiganya bersamaan dan gambarnya jelas. Ekonomi wisata Lombok nyata, mayoritas domestik, sangat musiman, dan jauh dari penuh. Villa yang dijual dengan janji okupansi 70 persen sepanjang tahun dijual dengan angka yang level hotel pun tidak mencapainya di provinsi ini.

Kami tidak menerbitkan angka yield, alasannya sama seperti di perbandingan Lombok dan Bali: kami akan menduga, dan Anda memutuskan berdasarkan dugaan kami. Yang kami lakukan: memberi tahu rekaman booking villa tertentu, kalau pemiliknya mau menunjukkan catatannya. Ada yang mau. Yang tidak mau sudah memberi Anda informasi juga.

Pintu masuk termurahnya di mana

Ujung bawah, untuk dua jenis pembeli:

  • Tanah: 90 m² di Batu Layar, 175 juta. 500 m², juga Batu Layar, 500 juta.
  • Villa: 400 juta di ujung bawah jalur, dan di 950 juta ada kavling 157 m² dengan rumah 140 m² dua kamar.

Stok yang sedang ada di villa Senggigi dan tanah Senggigi, sedangkan ruko dan unit komersialnya yang sedikit itu di ruko Senggigi. Untuk posisi Senggigi dibanding kawasan lain, tabel lengkapnya di panduan harga per are.

Pembeli asing: selesaikan dulu strukturnya sebelum lihat lokasi, karena villa terbangun di atas SHM tidak bisa langsung dibeli atas nama Anda. Tiga jalur yang bisa dipakai ada di bisakah WNA beli properti di Lombok.

Jawaban singkat

Senggigi bagus untuk dibeli? Untuk rumah jadi yang Anda pakai sendiri, iya, dan stoknya paling lengkap di pulau ini. Sebagai taruhan sewa murni, lebih lambat dari Kuta, dan angka okupansi di atas itu sebabnya.

Villa di Senggigi berapa? Median penawaran di buku kami 2,7 miliar. Rentangnya 400 juta sampai 30 miliar.

Tanahnya berapa? Median 150 juta per are untuk seluruh kawasan. Senggigi inti 200, Batu Layar 100, Kerandangan 92, Malimbu 60.

Masih rusak gempa? Jalur utamanya sudah banyak dibangun ulang, tapi tiap bangunan beda-beda. Villa buatan sebelum 2018 wajib dilihat strukturnya, bukan cuma tampilannya.

Senggigi atau Kuta? Senggigi kalau mau beli jadi dan ditinggali. Kuta kalau mau tanah dan siap membangun. Dua-duanya bukan memperebutkan pembeli yang sama.

Kirim anggaran Anda dan sebutkan mau jadi atau mau kosong. Kami buat daftar pendek dari yang kami pegang, tandai mana yang kami sendiri tidak akan beli, dan kami bilang kalau jawaban jujurnya adalah menunggu. Contoh stok Senggigi yang ada sekarang di bawah ini.

Properti terkait

Panduan Properti Senggigi 2026: Villa & Tanah — Ira Property